Tionghoa Muslim di Molenvliet.

Keberadaan masjid-masjid bersejarah di seluruh sudut Indonesia adalah hal yang menarik untuk kita ikuti sejarahnya, karena bukan hanya menjadi saksi dan perjalanan penyebaran agama Islam saja, tetapi sekaligus kita dapat mempelajari arsitektur yang mempunyai cita rasa seni yang tinggi, kita dapat menyaksikan perkembangan masjid-masjid ini mulai saat pertama berdiri sampai sekarang ini.

Pada kesempatan posting kali ini, kita akan mengulas salah satu masjid tertua yang masih berdiri sampai saat ini yang mana pada waktu itu berdiri di sekitaran Weltevreden, tepatnya di Molenvliet, Batavia, masjid ini bernama Masjid Jami Kebon Jeruk.

1915 Moskee in Kebon Djeroek te Batavia (G.L Tichelman)
Masjid Kebon Djeroek di Molenvliet yang diabadikan G.L Tichelman lebih dari 1 abad yang lalu (Courtesy: KITLV)

Dalam foto yang diabadikan G.L Tichelman lebih dari 1 abad yang lalu ini, kita dapat melihat suasana lingkungan di sekitaran masjid ini, di sebelah kiri foto adalah jalan yang mengambil nama dari masjid ini, suasana yang masih lengang dimana belum nampak bangunan-bangunan yang menjulang dan pepohonan yang masih banyak terdapat di daerah itu. Seperti nama-nama kampung yang terdapat di Batavia, kita mengenal Kebon Jahe, Kebon Sirih, Kebon Tebu atau kebon-kebon lainnya menjadi bukti bahwa dulunya pada kampung tersebut terdapat tanaman-tanaman yang ditanam dan menjadi nama kampung tersebut, tidak terkecuali daerah nama Kebon Jeruk juga terdapat pohon-pohon jeruk pada tempo dulu.

Kembali ke sejarah Masjid Jami Kebon Jeruk ini, masjid yang keaslian arsitekturnya masih terjaga ini, ternyata di bangun oleh pemimpin muslim Cina di Batavia bernama Chan Tsin Wa atau Tschoa yang datang bersama istrinya Fatima Hwu pada tahun 1718. Rupanya mereka ini adalah rombongan Muhajirin (pengungsi) yang memeluk agama Islam, yang terpaksa meninggalkan negerinya karena terdesak oleh penguasa Dinasti Qing yang menganut agama leluhur mereka, Buddha.

1925 Personeel voor de moskee in Weltevreden te Batavia (J.F.W. van der Meulen)
Pengurus Masjid berfoto bersama di serambi Masjid Kebon Djeroek, foto diambil pada tahun 1925 oleh F.J.W van der Meulen. (Courtesy: KITLV)

Oleh karena itu mereka tidak berniat lagi untuk kembali ke negeri leluhurnya, kemudian mereka bermukim di sini lalu mendirikan mesjid di lokasi bekas surau kecil yang dibangun sekitar tahun 1448, melihat dari waktu berdirinya, surau tersebut sudah reot, menunggu waktunya untuk roboh. Beliaulah yang memprakarsai pembangunan masjid ini pada tahun 1786 yang sekarang berada di Jl. Hayam Wuruk No. 85, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Tamansari, Kota Jakarta Barat.

Berawal dari sebuah surau kecil yang hampir roboh dengan tiang-tiang penyangga yang sudah tidak memungkinkan untuk membuat surau itu untuk berdiri kokoh, Kemudian di tempat tersebut, beliau dan para koleganya, sesama pendatang dari Tionghoa mendirikan masjid dan diberi nama Masjid Kebon Jeruk. Alasan diberinya nama Masjid Kebon Jeruk, tidak lain karena memang pada waktu itu di daerah ini ditumbuhi banyak pohon jeruk. Kata orang-orang dulu, awalnya daerah ini bagus, banyak ditumbuhi pohon-pohon jeruk yang rindang. Kita bisa bayangkan, bagaimana rimbun dan sejuknya Batavia pada masa itu.

Pada awalnya masjid ini mempunyai menara, seperti kita lihat pada foto, namun menara itu sudah lama runtuh karena memang telah sangat tua. Kemudian mengenai mimbar yang terbuat dari kayu kembang, dipindahkan untuk keperluan konservasi mimbar itu kini masih tersimpan di Museum Fatahillah. Masjid Jami Kebon Jeruk berdiri dengan luas 10 x 10 m2. Ruang ibadah utama berukuran 11,5 x 6 x 2,5 meter. Masjid yang dibangun berdekatan dengan daerah Molenvliet yang pada masa itu sebagai kawasan elit tempat para pendatang dari berbagai macam kalangan membuat Masjid Kebon Jeruk ini selalu di padati oleh jamaah dari berbagai daerah, bahkan muslim dari berbagai negara pun mudah kita jumpai di sini. Mereka rata-rata berjenggot, mengenakan baju koko, sorban atau peci putih serta celana mereka tidak ada yang menutupi mata kaki dan banyak juga yang memakai baju panjang sampai ke lutut, tasbih yang selalu berputar di tangan dan aroma minyak cendana dan kasturi, begitu kuat menyebar ke seluruh ruangan.

1900 Arabier te Batavia
Orang Arab di Molenvliet sekitar tahun 1900.

Gaya bangunan Masjid Kebon Jeruk ini sepertinya mempunyai kemiripan dengan masjid-masjid yang ada di Pulau Jawa. Namun sentuhan gaya arsitektur cina terlihat dari benda-benda peninggalan, seperti kalender antik dan sebuah makam di halaman masjid dengan batu nisan bergaya cina membuat keberadaan masjid ini berbeda dibanding dengan masjid-masjid lainnya, dengan adanya bangunan masjid ini menjadi suatu bukti dan saksi bagaimana pribumi dengan kaum pendatang pada masa itu berbaur dan menciptakan asimilasi kebudayaan yang tetap terjaga.

1930 Chinees Islamitische graf in Kebon Djeroek te Batavia
Makam Fatimah Hwu, seorang Tionghoa yang berjasa dalam menyebarkan Islam di Batavia, foto sekitar tahun1930. (Courtesy: KITLV)

Di halaman masjid ini juga terdapat sebuah makam. Seorang yang dimakamkan di tempat ini adalah Fatimah Hwu, istri dari Chiau Tsien Hwu yang wafat pada tahun 1792, pada makam tersebut terdapat pahatan enam aksara cina yang berbunyi:

”Hsienpi Chai Men Tsu Mow”, yang berarti “Inilah makam wanita dari keluarga Chai”.

Namun yang tidak kalah unik dari makam ini adalah bentuk nisannya, nisan tersebut berbentuk naga dengan tulisan Cina dan pertanggalan Arab.

20150219163251-1-mangkam-panglima-hok-di-masjid-kebon-jeruk-001-hery-h-winarno
Makam bersejarah yang berusia lebih dari 2 abad masih terdapat di dalam masjid ini. (Courtesy: merdeka.com)

Pemerintah DKI Jakarta Dinas Museum dan Sejarah melalui SK Gubernur No Cb11/1/12/72 tanggal 10 Januari 1972 menetapkan Masjid Jami Kebon Jeruk sebagai Cagar Budaya. Masjid ini telah mengalami renovasi beberapa kali seperti tahun 1950, keempat sisi masjid diperluas beberapa meter untuk memenuhi kebutuhan ibadah dan sebagai pusat kegiatan Tabligh, kemudian pada tahun 1974 dilakukan perbaikan pada bagian-bagian yang rusak untuk menjaga kelestariannya. Renovasi juga dilakukan pada tahun 1983 sampai dengan 1986 dan terakhir tahun 1998.

(IFFH dengan sumber artikel: Sejarah Jakarta oleh Pemda DKI: Masjid Jami Kebon Jeruk)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

Putri Sarinande bersabda:

bahagia adalah ketika saya memutuskan untuk bahagia

Indonesian-Atheists.org

an online community of indonesian non-believers

Arsip Indonesia

"Karena sejarah akan selalu menemukan kebenarannya."

tirto.id

"Karena sejarah akan selalu menemukan kebenarannya."

%d blogger menyukai ini: